Home » , » Simposium Membumikan Nilai-Nilai Luhur Pancasila

Simposium Membumikan Nilai-Nilai Luhur Pancasila

Written By MajalahFaktaHukumdanHam on 2019-09-16 | 19.40.00

Malang - FH&H online,


Perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam dua dekade terakhir semakin menunjukkan betapa semakin rawannya eksistensi Pancasila sebagai dasar negara, ideologi dan pandangan hidup bangsa. Fenomena ini disebabkan semakin memudarnya rasa nasionalime di sebahagian elemen masyarakat. Tak bisa dipungkiri selama 20 tahun era reformasi, program Pembinaan, Penghayatan dan Pengamalan nilai-nilai Pancasila (P4) seolah absen dalam sistem ketatanegaraan yang berimplikasi pada "kekosongan ideologi Pancasila", sehingga menyuburkan penyusupan ideologi transnasional yang tidak sejalan bahkan bertentangan dengan Pancasila.

Menyadari semakin memudarnya nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan masyarakat mendorong Lembaga Pendidikan Nasionalis Kota Malang melaksanakan Simposium Nasional Pendidikan Pancasila pada tanggal 14-15 September 2019 di Graha Pancasila, Batu Malang. Tujuannya adalah untuk membumikan Pancasila dengan membangkitkan kembali pendidikan yang berwawasan Pancasila di sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi. Yang dihadiri peserta Simposium yang bertemakan "Melawan Radikalisme - Separatisme di Bumi Indonesia" adalah para tokoh pendidik dan pengajar serta pemerhati pendidikan Pancasila yang berasal dari Pulau Jawa khususnya Jawa Timur, serta dari luar Pulau Jawa seperti Bali, Kalimantan Tengah, Maluku, dan Sumatera Barat. Simposium di buka oleh Wakil Walikota Malang Ir. Punjul Sartono, SH, MM, dengan Keynote Speaker Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof.Dr. Haryono, M.Pd. 

Banyak tokoh pendidik lainnya yang hadir, diantaranya: Dr.Wadib Su'udi, M.Pd, salah satu  promotor Prof. Wani Budi Utomo Ketua DPC ISRI Malang (Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia), M. Yusuf Wibowo dari GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia) sebagai Ketua Pelaksana kegiatan ini serta tokoh lainnya. Leo Tolstoy RT Panjaitan, S.H., M.H., Ketua Umum Pengawal Indonesia Kerja (PIKA) adalah salah satu dari 3 (tiga) nara sumber yang mempresentasikan makalahnya "Mengawal dan Mempertahankan Pancasila Sebagai Dasar Negara, Ideologi dan Pandangan Hidup Bangsa". 

Dalam Simposium tersebut Ketum PIKA merekomendasikan kepada BPIP visi 2025 PIKA: "Mewujudkan Indonesia menjadi Negara maju dan merupakan kekuatan 12 besar dunia di tahun 2025 dan 5 besar dunia pada tahun 2045 melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif dan berkelanjutan".

Tahun 2019 ini Deklarasikan Malang sebagai Pilot Project Nasional Pembukuan Nilai-Nilai Luhur Pancasila (berbasis Desa/Kelurahan, RT/RW) dengan sasaran utama 8 (delapan) kelompok masyarakat dengan prioritas generasi muda sekolah.

Adapun Rekomendasi PIKA tahun 2019 - 2045:

⏺️ Strategi Nasional PIKA sebagai berikut:
  1. Siapkan Materi Umum/Kurikulum sekolah-sekolah sesuai Level masing-masing (TK s/d PT);
  2. Siapkan para pendidik (TOT)/Instruktur;
  3. Lakukan MONEV ➡️Siapkan Petugas (ada SOP)➡️Tetapkan indikator;
  4. Tumbuhkan pusat-pusat pendidikan & pembudayaan Pancasila berbasis Masy;
  5. Jadikan Pancasila sumber inspirasi/menjiwai seluruh kegiatan Sos-ek-bud-pol

⏺️ Pendekatan Operasional:
  1. Identifikasi Persepsi Masyarakat terhadap posisi Pancasila;
  2. Libatkan seluruh komponen masyarakat;
  3. Bentuk kelompok sasaran;
  4. Buat sayembara lomba bernuansa Pancasila;
  5. Beri Apresiasi keberhasilan pembudayaan Pancasila;
  6. Galang dana dukungan masyarakat pembudayaan;
  7. Sosialisasikan terus perkembangan program.

Para nara sumber menggaris-bawahi bahwa salah satu persoalan yang paling mencemaskan adalah banyaknya generasi muda penerus bangsa yang teracuni ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Para geneerasi muda yang masih dalam pendidikan sekolah baik SD, SLTP, SLTA maupun mahasiswa secara masif telah terinfeksi oleh faham-faham yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa yang cenderung berujung pada tindakan radikalisme dan separatisme. Alam liberalisme semakin memperburuk suasana kebatinan bernegara. Dengan berdalih demi demokrasi dan penegakan HAM, faham-faham yang berbahaya ini semakin menggurita menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak menghancurkan bangsa.

Para siswa dan mahasiswa selaku pemegang estafet kendali bangsa di masa depan sangat menentukan nasib bangsa. Di tangan para pemuda yang berjiwa nasionalis dan pancasilais akan membawa negeri ini menuju kejayaannya. Namun sebaliknya, jika mereka terus terkontaminasi dan terpapar faham anti Pancasila, dipastikan bangsa ini tinggal menunggu kehancurannya. Oleh karena itu lah tugas kaum pendidik untuk mengawal putra-putri tunas bangsa agar tidak terjebak  oleh aliran-aliran anti Pancasila.

Indonesia diibaratkan gedung rumah tempat berlindung seluruh rakyat dengan keberagamannya yang memiliki pondasi penopang semua rakyat. Pancasila menjadi satu-satunya penopang itu semua, tidak ada penopang lain yang bisa sebagai landasan kokoh bangunan rumah Indonesia. Bahkan telah teruji Pancasila memenuhi syarat untuk menjadi landasan yang mampu mempersatukan, dan melindungi seluruh komponen bangsa. Oleh karena itu atas nama toleransi, maka perbedaan adalah keniscayaan. 

Setiap perbedaan yang merupakan unsur dari komponen bangsa adalah keharusan bagi kita semua untuk menerima, menghargai dan menghormatinya.

Sejatinya, apapun perbedaan yang ada di bumi nusantara ini tidak ada yang saling menegasikan, semua perbedaan saling mengisi dan melengkapi. Inilah Bhinneka Tunggal Ika. Tetapi jika perbedaan itu untuk menegasikan, menentang dan menyalahkan perbedaan yang lain, maka itu harus dimusnahkan karena itu adalah akar dari disintegrasi bangsa.

Disinilah fungsi hadirnya Gerakan Pendidik Pancasila yang di deklarasikan pada puncak akhir Simposium oleh Pengurus terpilih. Kota Malang disepakati menjadi Pilot Proyek pembumian nilai-nilai Pancasila. Dan melalui program kerja yang disepakati, diharapkan mampu menangkal semua pengaruh dampak negatif dari perkembangan kemajuan zaman yang mengancam eksistensi Pancasila sebagai dasar, ideologi dan pandangan hidup bangsa Indonesia. 

Prof. Djathi Koesoemo Pelopor dan Pendiri PDIP menambahkan bahwa Pancasila itu Gotong-Royong, "Ibaratnya filsafat itu ada perasaan/jiwa dan Ideologi itu adalah logika atau buah pikir. Jadi dengan mudah menerapkan Pendidikan Pancasila ini dengan mudah diingat saat memperkenalkan Pendidikan Pancasila kepada anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini dari 5 (lima) dasar itu adalah sebagai Ketuhanan, Kebangsaan, Kemanusiaan, Kerakyatan dan Keadilan Sosial. Kemudian gurunya yang menjelaskan dari 5 (lima) dasar tersebut dengan bahasa yg mudah dimengerti dan diserap anak-anak", ujar beliau.

Dan dengan demikian diikrarkannya DEKLARASI GERAKAN PENDIDIK PANCASILA oleh Seluruh Pengurus terpilih dan anggota yang disaksikan oleh Dewan Pertimbangan, saat menjelang mengakhiri kegiatan penutupan hari pertama Simposium.  (UP)
 
Support : Copyright © 2016. Majalah Fakta Hukum & Ham - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by klikmediakreasi
IT powered by Majalahfaktahukumdanham